Pesta Rakyat Banda 2018 Digelar, Pulau Rhun Yang Terlupakan

by
Asisten III Setda Provinsi Maluku Zulkifli Anwar menabuh gong sembilan, musik tradisional Banda saat membuka Pesta Rakyat Banda 2018 di Istana Mini Banda Naira, Minggu (11/11/2018). FOTO : ADI (TERASMALUKU.COM)

AMBONKITA.COM-Pulau Rhun yang merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, pernah menjadi penyebab perang antara Inggris dan Belanda pada tahun 1652 sampai 1654. Penyebab perang itu, disebabkan keinginan kedua negara untuk memonopoli perdagangan pala dunia.

“Kepulauan Banda merupakan penghasil pala saat itupun, dikuasai oleh Belanda. Bahkan, Pemerintah Ratu Elizabeth I mengirimkan ekspedisi untuk mendapatkan pala di Pulau Rhun, yang kemudian dijajahnya,” demikian disampaikan Asisten III Setda Maluku, Zulkifli Anwar saat membacakan sambutan mewakili Gubernur Maluku pada Acara Pembukaan Event Pesta Rakyat Banda Tahun 2018 yang dipusatkan di Istana Mini Banda Naira, Minggu (11/11/2018).

Bahkan, kata Assagaff, kesepakatan antara Inggris dan Belanda pada 13 Juli 1667 yang dikenal dengan perjanjian Breda, Pulau Rhun diserahkan kepada Belanda, sebaliknya Inggris mendapatkan New Amsterdam yang sekarang bernama Manhattan di New York, Amerika serikat. “Ratusan tahun kemudian, Manhattan berkembang menjadi kota metropolis sementara Pulau Rhun kian terlupakan,” ungkap Assagaff.

Selain sebagai penghasil pala, sebut Assagaff, Kepulauan Banda turut pula berperan penting dalam lahirnya Indonesia. “Di Banda kolonialisme dimulai. Namun di Banda pula, ide-ide kebangsaan lahir,” paparnya. Dia menyebutkan, pada saat hampir bersamaan, empat orang Founding Fathers Indonesia yakni, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusuma Sumantri di asingkan ke Banda Naira.

“Kisah terusirnya pribumi dan kedatangan bangsa-bangsa yang kemudian menjadi orang Banda dalam ragam interaksi sosial budaya, membuat Sutan Syahrir menjadikannya sebagai salah satu gagasan dalam perumusan Undang-Undang Dasar,” kata Assagaff.  Sangat pentingnya, sejarah Banda untuk Indonesia, sebut Assagaff, sehingga, dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi Maluku bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata serta stakeholder pariwisata melaksanakan salah satu event yakni, Pesta Rakyat Banda yang termasuk dalam 100 Wonderful Event di Indonesia pun digelar.

Untuk itulah, dukungan dan partispasi sangat dibutukan.  “Pesta rakyat Banda ini sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi kita bersama. Dirinya mengajak, seluruh stakeholder untuk menjadi agen dalam menyampaikan kegiatan-kegiatan positif di Maluku.  Saudara-saudara dapat menyampaikan pesta rakyat dan event-event di daerah melalui media-media sosial yang saudara-saudara miliki, sehingga menularkan suasana positif bagi para wisatawan dan calon wisatawan untuk selalu berkunjung ke Maluku khususnya di Banda Naira,” kata Assagaff.

Pesta Rakyat Banda 2018 digelar untuk terus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Banda. Berbagai ivent digelar dalam Pesta Rakyat Banda ini, diantaranya Cuci Parigi Pusaka Negeri Lonthoir pada Rabu (14/11/2018). Puluhan ribu orang akan menyaksikan tradisi Cuci Parigi Pusaka yang digelar  sepuluh tahun sekali ini. (ADI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *