Catatan : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM,- Di tengah upaya negara menekan angka kelahiran, sebuah tembok tak kasatmata berdiri kokoh: dinding prasangka. Laporan BKKBN menjadi saksi bisu betapa angka unmet need—kebutuhan KB yang tak terpenuhi—masih membayangi. Di baliknya, terselip angka 10% hingga 16% Pasangan Usia Subur (PUS) yang memilih mundur dari layanan kesehatan, bukan karena tak mampu, melainkan karena takut pada hantu-hantu efek samping yang mereka dengar di sela-sela gosip tetangga.
Perang Melawan Kabar Burung Digital
Masuk ke tahun 2024 hingga awal 2026, medan perangnya telah berpindah ke layar ponsel. Di beberapa wilayah, rendahnya literasi membuat 75% masyarakat masih memeluk erat mitos negatif tentang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
Prahara makin runyam ketika muncul narasi bombastis di media sosial yang mengeklaim bahwa pemerintah membagikan alat kontrasepsi secara bebas kepada pelajar. BKKBN harus bekerja ekstra keras meredam api ini, menegaskan bahwa kebijakan mereka tetap tegak lurus: kontrasepsi untuk pasangan menikah, sementara untuk remaja adalah tentang edukasi dan pendewasaan usia perkawinan.
Tiga Akar yang Menghujam
Mengapa hoax begitu sulit dicabut dari benak masyarakat? BKKBN mengidentifikasi tiga akar masalah yang saling berkelindan:
- Hiperbola Pengalaman: Keluhan medis yang sebenarnya ringan, seperti flek atau pusing, berubah menjadi “horor medis” saat diceritakan dari mulut ke mulut dengan bumbu dramatis.
- Dinding Larangan Suami: Banyak pria yang masih termakan mitos bahwa KB akan menurunkan gairah seksual atau terbebani pikiran soal biaya, padahal negara telah menyediakan layanan gratis.
- Algoritma Ketakutan: Judul-judul video di TikTok dan pesan berantai di WhatsApp yang tidak tervalidasi secara medis sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak karena sifatnya yang viral.
Melawan narasi liar tidak bisa dilakukan hanya dari balik meja. Pasukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) pun dikerahkan. Ratusan ribu kader kini menjadi ujung tombak, mengetuk pintu demi pintu, melakukan edukasi door-to-door untuk meluruskan logika yang bengkok.
Negara kini mendorong masyarakat untuk beralih ke MKJP seperti IUD atau Implan, yang jauh lebih efektif dan minim risiko kesalahan manusiawi dibanding pil yang sering terlupa. Namun, kunci utamanya tetap satu: Metode Klop. Pemilihan kontrasepsi haruslah lahir dari ruang konseling yang dingin bersama bidan atau dokter, melalui pertimbangan medis yang matang, bukan lahir dari keriuhan komentar di media sosial atau bisikan tetangga yang belum tentu benar.
Dahulu, Indonesia mengenal Ipeslock. Bentuknya menyerupai jangkar, berbeda jauh dengan model modern. Di masa itu, sering terdengar cerita bayi lahir dengan alat kontrasepsi menempel di kulitnya. Fenomena “kebobolan” ini bukan tanpa alasan. Ipeslock memiliki empat ukuran yang ditandai dengan warna: hitam, putih, kuning, dan biru.
Ketepatan ukuran ini bergantung sepenuhnya pada kejujuran sang ibu. Bidan senior ini mengenang bagaimana prosedur bisa berantakan hanya karena sebuah rahasia kecil.
“Ada ibu yang mengaku ini kehamilan pertama, padahal ia sudah pernah keguguran dua kali. Rahim tidak bisa berbohong; ukurannya berubah setelah kehamilan. Jika ukuran Ipeslock yang dipasang tidak sesuai dengan riwayat rahim, ia akan melonggar dan gagal menjalankan tugasnya.”
Masalah terbesar sebenarnya bukan pada alatnya, melainkan pada kepedulian. Banyak pengguna yang “lupa” bahwa IUD memiliki masa kedaluwarsa. Meski tenaga kesehatan sudah berkali-kali mengingatkan, rasa abai sering kali menang. Mereka membiarkan benda asing itu menetap jauh melampaui jangka waktu yang ditetapkan, hingga akhirnya memicu komplikasi yang sebenarnya bisa dicegah.
Dunia medis telah beranjak dari masa Ipeslock yang berbentuk jangkar. Kini, kita mengenal Copper T atau Multiload. Bentuknya yang menyerupai huruf T dengan lilitan tembaga memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi. Berbeda dengan model lama, teknologi sekarang dirancang untuk lebih adaptif dengan sistem tubuh manusia.
Meski begitu, setiap alat kontrasepsi tetaplah memiliki efek samping. Tubuh manusia adalah semesta yang unik; apa yang diterima dengan baik oleh satu orang, mungkin ditolak oleh sistem tubuh yang lain. Namun, di tengah banjir mitos dan ketakutan, satu hal yang pasti: kejujuran kepada tenaga medis dan kesadaran untuk disiplin adalah kunci utama dari kesehatan reproduksi itu sendiri.
Namun tetap saja, banyak perempuan di Ambon menganggap alat KB berupa implant atau IUD bisa membahayakan tubuh mereka.
Lalu ada narasi tentang perubahan fisik. Pil KB sering dituduh sebagai biang keladi kegemukan, jerawat, hingga kemandulan permanen.
Realitanya, Juliana menegaskan, hormon dalam kontrasepsi modern telah mengalami evolusi.
‘’ Dosis hormon saat ini jauh lebih rendah dibandingkan dekade 70-an. Efek samping seperti retensi cairan memang ada, namun bersifat individual. Mengkambinghitamkan pil KB atas bertambahnya berat badan seringkali mengabaikan faktor gaya hidup dan metabolisme yang berubah seiring usia,’’ ungkap Juliana.
Di bawah langit pemukiman yang padat, di mana suara radio tetangga bersahutan dengan tangis bayi, sebuah fenomena yang disebut “Bibirnet” bekerja lebih cepat daripada koneksi serat optik mana pun. Ini adalah jaringan informasi tanpa kabel, tanpa data, namun memiliki tajam yang mampu menyayat logika medis seakurat pisau bedah.
Sering kali, sebuah prosedur medis berakhir dengan kalimat sederhana dari seorang bidan: “Ibu, tiga hari lagi kembali ke sini ya, kita kontrol.” Sebuah instruksi yang krusial, sebuah masa tenang untuk memastikan bahwa si “huruf T” kecil itu telah duduk manis di singgasananya, tepat di tengah rongga rahim, tanpa bergeser barang satu milimeter pun.
Namun, begitu sang pasien melangkah keluar dari ubin puskesmas yang dingin, instruksi itu sering kali menguap. Kontrol tiga hari—yang seharusnya menjadi garansi keamanan agar tidak ada risiko pendarahan atau kegagalan—dianggap sebagai formalitas belaka. Bagi mereka, selama tidak ada rasa sakit yang menghunjam, maka semuanya dianggap baik-baik saja.
Ketajaman Bibirnet
Juliana memastikan di sinilah tragedi informasi dimulai. Di saat kursi ruang tunggu puskesmas kosong dari pasien yang seharusnya kontrol, teras-teras rumah justru penuh dengan narasi liar. Rumor bahwa alat kontrasepsi bisa “berenang” ke jantung atau menyebabkan kemandulan permanen disebarkan dengan keyakinan yang meluap-luap.
“Bibirnet itu lebih cepat dan tajam dibandingkan dengan ilmu yang akurat,” ujar Juliana dengan nada getir.
Masyarakat kita sering kali lebih memilih bersandar pada testimoni “katanya” daripada data “faktanya”. Sebuah keluhan nyeri yang dialami satu orang, setelah melewati tiga mulut tetangga, bisa berubah menjadi kisah horor tentang malpraktik. Akurasi ilmiah yang disampaikan bidan di ruang periksa sering kali kalah telak oleh narasi emosional yang dibumbui ketakutan di tukang sayur.
Padahal, menurut Juliana posisi IUD yang tidak dicek pasca-pemasangan adalah bom waktu yang diciptakan sendiri. Risiko “kebobolan” atau infeksi sebenarnya bisa diredam jika komunikasi dua arah antara nakes dan pasien berjalan lancar. Namun, ketika mitos sudah dianggap sebagai kitab suci, edukasi medis hanya menjadi angin lalu yang mampir di telinga kiri dan keluar di telinga kanan.
Pada akhirnya, perang melawan angka kelahiran yang tak terencana bukan hanya soal ketersediaan alat medis, melainkan perang melawan bayang-bayang informasi yang lahir dari bibir ke bibir yang sumbernya dari gawai yang dipelototi tiap waktu—sebuah jaringan informasi yang sayangnya, sering kali lebih dipercaya daripada gelar sarjana di belakang nama sang bidan.
Ia memaparkan, mitos memang menyebabkan ketakutan akan “keringnya rahim” setelah berhenti menggunakan kontrasepsi juga menjadi momok. Padahal, kesuburan biasanya kembali segera setelah penggunaan dihentikan (untuk pil) atau beberapa bulan kemudian (untuk suntik). Rahim bukanlah tanah yang mengering karena pestisida; ia adalah organ dinamis yang tahu cara pulih.
*Pimred Ambonkita.com yang juga akademisi












