Catatan : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM,-Di salah satu ruang Kantor Gasira di Kawasan Kudamati, Kota Ambon yang dipenuhi berkas pengaduan, Lies Marantika menatap keluar jendela, merenung. Obrolan via whatsapp, mengguggah pikirnya, Insany, jurnalis Ambonkita, mengirim rentetan pertanyaan kritis. Lies yang lebih dari 30an tahun mengadvokasi kasus perempuan dan anak di Maluku, tersentak sadar, masih ada cerita yang tersembunyi di balik bilik ranjang perempuan, rahim mereka masih terpenjara.
Baginya, hoaks kontrasepsi bukan sekadar salah ketik di grup WhatsApp, itu adalah rantai yang mengikat kaki-kaki perempuan agar tak melangkah terlalu jauh dari dapur.
“Kita harus jujur,” ujarnya dengan nada rendah namun tegas, “mitos ‘rahim kering’ atau ‘IUD yang berjalan ke jantung’ bukan sekadar ketidaktahuan. Itu adalah instrumen kontrol.”
Dalam budaya patriarki yang kental, tutur perempuan yang wajahnya dipenuhi garis kebijakan akan pengalaman itu, tubuh perempuan dianggap sebagai milik komunal—milik suami, milik mertua, milik tradisi. Mitos-mitos ini sengaja dipelihara untuk menanamkan rasa takut.
‘’Ketika seorang perempuan takut pada alat kontrasepsi, ia kehilangan kendali atas rahimnya. Dan ketika ia kehilangan kendali atas rahimnya, ia kehilangan kendali atas seluruh peta hidupnya. Ia menjadi mudah diatur, mudah dijinakkan dalam domestikasi yang tak berujung,’’ keluhnya.
Ia menceritakan tentang perempuan-perempuan yang datang padanya dengan napas tersengal, membawa pil KB yang disembunyikan di lipatan baju terdalam.
“Mereka sedang melakukan gerilya,” katanya. Ada beban psikologis yang mengerikan ketika seorang istri harus memilih antara kesehatan reproduksinya atau kepatuhan pada suami yang termakan hoaks. Di mata masyarakat kita, perempuan yang ber-KB tanpa izin sering dicap sebagai istri yang ‘membangkang’ atau ‘ingin bebas berselingkuh’. Ini adalah kekerasan psikologis yang sunyi; mereka harus menyelamatkan nyawa mereka sendiri dalam diam, seolah-olah kesehatan adalah sebuah kejahatan.
Kita melihat ketidakadilan yang telanjang: seorang istri rela perutnya disayat berkali-kali dalam operasi sesar atau tubuhnya dibanjiri hormon setiap bulan, namun sang suami menolak prosedur kecil hanya karena takut ‘merasa kurang pria’. Mitos ini adalah bukti bahwa dalam banyak rumah tangga, kenyamanan pria masih menempati kasta tertinggi di atas keselamatan reproduksi perempuan.
Lies mengaku, sering menemui korban dari mantra “banyak anak banyak rezeki” di pemukiman kumuh. Mitos ini adalah racun yang dibalut madu tradisi. Ketika perencanaan keluarga dihambat oleh hoaks, kemiskinan menjadi sesuatu yang diwariskan, bukan takdir. Anak-anak yang lahir dalam jarak terlalu dekat bukan hanya berisiko stunting secara fisik, tapi juga ‘stunting’ dalam kesempatan hidup. “Saya melihat perempuan-perempuan yang menua sebelum waktunya, yang matanya kehilangan binar karena setiap tahun rahimnya harus bekerja tanpa jeda, semua karena mereka dilarang memutus ‘rezeki’ oleh lingkungan yang tidak mau membantu memberi makan anak-anak itu.”
Lalu, bagaimana sang aktivis yang juga seorang pendeta dan akademisi ini melawan? Bukan dengan membalas teriak, tapi dengan membisikkan keberanian. “Kami menggunakan bahasa persaudaraan,” jelasnya. Di lingkaran-lingkaran kecil saat mencuci baju atau menjemput anak sekolah, mereka mulai bicara tentang hak untuk tidak sakit, hak untuk cukup tidur, dan hak untuk melihat anak tumbuh sehat.
Strateginya adalah mengubah sudut pandang: bahwa ber-KB bukan melawan takdir, melainkan tindakan mulia untuk menjaga amanah kehidupan.
“Kami tidak hanya memberi mereka alat kontrasepsi,” pungkasnya sambil merapikan tumpukan berkas di mejanya, “kami memberikan mereka kembali kunci atas rumah mereka sendiri: tubuh mereka.”
*Jurnalis dan akademisi












