Ambonkita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
terasmaluku
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
No Result
View All Result
Ambonkita.com
No Result
View All Result
Home Catatan Kita

Mitos dan Hoax KB : Rahim yang Dipenjara Kata-Kata

Editor by Editor
01/31/2026
Reading Time: 2 mins read
0
Mitos dan Hoax KB :  Rahim yang Dipenjara Kata-Kata

Dr. Lies Marantika Direktur Gasira Maluku (foto Ist)

Catatan : Insany Syahbarwaty*

RELATED POSTS

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

AMBONKITA.COM,-Di salah satu ruang Kantor Gasira di Kawasan Kudamati, Kota Ambon yang dipenuhi berkas pengaduan, Lies Marantika  menatap keluar jendela, merenung. Obrolan via whatsapp, mengguggah pikirnya, Insany, jurnalis Ambonkita, mengirim rentetan pertanyaan kritis. Lies yang lebih dari 30an tahun mengadvokasi kasus perempuan dan anak di Maluku,  tersentak sadar, masih ada cerita yang tersembunyi di balik bilik ranjang perempuan, rahim mereka masih terpenjara.

Baginya, hoaks kontrasepsi bukan sekadar salah ketik di grup WhatsApp,  itu adalah rantai yang mengikat kaki-kaki perempuan agar tak melangkah terlalu jauh dari dapur.

“Kita harus jujur,” ujarnya dengan nada rendah namun tegas, “mitos ‘rahim kering’ atau ‘IUD yang berjalan ke jantung’ bukan sekadar ketidaktahuan. Itu adalah instrumen kontrol.”

Dalam budaya patriarki yang kental, tutur perempuan yang wajahnya dipenuhi garis kebijakan akan pengalaman itu, tubuh perempuan dianggap sebagai milik komunal—milik suami, milik mertua, milik tradisi. Mitos-mitos ini sengaja dipelihara untuk menanamkan rasa takut.

‘’Ketika seorang perempuan takut pada alat kontrasepsi, ia kehilangan kendali atas rahimnya. Dan ketika ia kehilangan kendali atas rahimnya, ia kehilangan kendali atas seluruh peta hidupnya. Ia menjadi mudah diatur, mudah dijinakkan dalam domestikasi yang tak berujung,’’ keluhnya.

Ia menceritakan tentang perempuan-perempuan yang datang padanya dengan napas tersengal, membawa pil KB yang disembunyikan di lipatan baju terdalam.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

“Mereka sedang melakukan gerilya,” katanya. Ada beban psikologis yang mengerikan ketika seorang istri harus memilih antara kesehatan reproduksinya atau kepatuhan pada suami yang termakan hoaks. Di mata masyarakat kita, perempuan yang ber-KB tanpa izin sering dicap sebagai istri yang ‘membangkang’ atau ‘ingin bebas berselingkuh’. Ini adalah kekerasan psikologis yang sunyi; mereka harus menyelamatkan nyawa mereka sendiri dalam diam, seolah-olah kesehatan adalah sebuah kejahatan.

Kita melihat ketidakadilan yang telanjang: seorang istri rela perutnya disayat berkali-kali dalam operasi sesar atau tubuhnya dibanjiri hormon setiap bulan, namun sang suami menolak prosedur kecil hanya karena takut ‘merasa kurang pria’. Mitos ini adalah bukti bahwa dalam banyak rumah tangga, kenyamanan pria masih menempati kasta tertinggi di atas keselamatan reproduksi perempuan.

Lies mengaku, sering menemui korban dari mantra “banyak anak banyak rezeki” di pemukiman kumuh. Mitos ini adalah racun yang dibalut madu tradisi. Ketika perencanaan keluarga dihambat oleh hoaks, kemiskinan menjadi sesuatu yang diwariskan, bukan takdir. Anak-anak yang lahir dalam jarak terlalu dekat bukan hanya berisiko stunting secara fisik, tapi juga ‘stunting’ dalam kesempatan hidup. “Saya melihat perempuan-perempuan yang menua sebelum waktunya, yang matanya kehilangan binar karena setiap tahun rahimnya harus bekerja tanpa jeda, semua karena mereka dilarang memutus ‘rezeki’ oleh lingkungan yang tidak mau membantu memberi makan anak-anak itu.”

Lalu, bagaimana sang aktivis yang juga seorang pendeta dan akademisi ini melawan? Bukan dengan membalas teriak, tapi dengan membisikkan keberanian. “Kami menggunakan bahasa persaudaraan,” jelasnya. Di lingkaran-lingkaran kecil saat mencuci baju atau menjemput anak sekolah, mereka mulai bicara tentang hak untuk tidak sakit, hak untuk cukup tidur, dan hak untuk melihat anak tumbuh sehat.

Strateginya adalah mengubah sudut pandang: bahwa ber-KB bukan melawan takdir, melainkan tindakan mulia untuk menjaga amanah kehidupan.

“Kami tidak hanya memberi mereka alat kontrasepsi,” pungkasnya sambil merapikan tumpukan berkas di mejanya, “kami memberikan mereka kembali kunci atas rumah mereka sendiri: tubuh mereka.”

*Jurnalis dan akademisi

Tags: disinformasi alat kbgasira malukuhoax Kb
ShareTweetSendSendShare
Editor

Editor

Related Posts

Catatan Kita

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

04/22/2026
Hari Perempuan Internasional 2026:  Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos
Catatan Kita

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

03/08/2026
 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia
Catatan Kita

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

02/22/2026
Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara
Catatan Kita

Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara

02/17/2026
Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru
Catatan Kita

Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru

02/09/2026
Integritas Media dan Responsibilitas Negara
Catatan Kita

Integritas Media dan Responsibilitas Negara

02/08/2026
Next Post
Razia Miras Ilegal di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon Polisi Amankan 700 Liter Sopi

Razia Miras Ilegal di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon Polisi Amankan 700 Liter Sopi

Dewan Dorong Peningkatan Kapasitas Pelabuhan di Seram Utara Dukung Kerjasama Pemda Maluku-Jawa Timur

DPRD Maluku akan Sampaikan Perubahan Rute Kapal Penumpang ke Kemenhub

Recommended Stories

Tim Mabes Polri Dikerahkan ke Tual Usut Bentrok yang Diduga Melibatkan Oknum Polisi

Maluku Aman Kondusif Pasca Gelombang Unjuk Rasa Putusan MK

08/29/2024
Jelang Ramadan, PLN Siagakan 2.556 Personil Amankan Pasokan Listrik di Maluku dan Maluku Utara

Jelang Ramadan, PLN Siagakan 2.556 Personil Amankan Pasokan Listrik di Maluku dan Maluku Utara

04/01/2022
Nuffic Neso Bakal Gelar Kursus Bisnis MOOC Gratis

Nuffic Neso Bakal Gelar Kursus Bisnis MOOC Gratis

04/23/2021

Popular Stories

  • Kapolda Maluku

    Kapolda: Anggota DPRD Malteng yang tidak Ada di TKP Jangan Omong Besar Cari Popularitas Murahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beredar Foto Nikah Dua Aktor Porno yang Viral di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolresta Ambon Rotasi Tiga Kapolsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pohon Tumbang Timpa Ibu dan Anak di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gara-gara Tagih Hutang Warga Mangga Dua Ambon Diparangi Hingga Tewas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Terms and Conditions

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

No Result
View All Result
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In