Catatan : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM,- Teras Maluku menemui Abdul Manaf Tubaka di rumahnya yang sederhana di kawasan Kampus Universitas Islam Negeri AM Sangadji (UINSA) Ambon. Ia tengah membaca bukunya yang nyaris lebih tebal dari sepatu wedges istrinya. Sosiolog muda itu, tersenyum ketika pertanyaan tentang bagaimana mitos bekerja.
Dalam sosiologi, kita mengenal hukum Thomas: “Jika manusia mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka situasi tersebut nyata dalam konsekuensinya.” Mitos alat kontrasepsi telah menciptakan ruang ketakutan kolektif. Masyarakat tidak lagi bertindak berdasarkan data medis, melainkan berdasarkan “solidaritas kecemasan”.
Sosiolog muda Maluku itu mengurai, ketika seorang ibu menolak IUD karena takut benda itu “berjalan ke jantung”, ia sedang melakukan tindakan perlindungan diri yang logis dalam sistem kepercayaan dunianya. Mitos memicu perilaku avoidance (penghindaran) yang masif. Akibatnya, kontrasepsi tidak lagi dilihat sebagai alat kesehatan, melainkan sebagai “ancaman terhadap integritas tubuh”.
‘’Perilaku ini mengakar karena testimoni kegagalan satu orang lebih dianggap sebagai “kebenaran otoritatif” dibandingkan ribuan data keberhasilan medis yang dianggap asing,’’ terangnya.
Ada garis imajiner yang membedakan bagaimana mitos bekerja di desa dan di kota, namun keduanya bermuara pada ketidakpercayaan.
‘’Di Pedesaan (Mitos Fisik-Mistik-red) Mitos cenderung bersifat mekanis dan visual. Ketakutan akan alat yang hilang di dalam tubuh atau kemandulan permanen mendominasi. Di sini, tubuh dilihat sebagai entitas utuh yang tidak boleh diintervensi oleh logam atau benda asing. Di Perkotaan (Mitos Medis-Kosmetik, red) Masyarakat urban yang lebih terpapar informasi justru terjebak dalam over-thinking medis, ‘’bebernya.
‘’Mitos bergeser pada isu hormon ketakutan akan jerawat, penurunan libido, hingga perubahan suasana hati. Di kota, kontrasepsi sering dianggap musuh bagi estetika dan performa tubuh modern. Jika orang desa takut mati, orang kota takut kehilangan kendali atas citra diri mereka,’’ jelas Manaf sambil membolak balik buku tebalnya.
Budaya patriarki di Maluku, jelasnya, sering kali memandang rahim bukan milik perempuan melainkan aset keluarga atau simbol kejantanan suami. Mitos banyak anak banyak rezeki adalah konstruksi budaya yang digunakan untuk menekan agensi perempuan.
Dalam spektrum agama, mitos sering kali dibalut dengan narasi melawan takdir. Alat kontrasepsi diposisikan sebagai bentuk ketidakpercayaan pada pemeliharaan Tuhan. Sosiologi melihat ini sebagai penggunaan agama sebagai alat kontrol sosial untuk mempertahankan struktur keluarga tradisional.’’ Di sini, mitos bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal moralitas. Perempuan yang ber-KB seringkali secara halus diberi stigma sebagai sosok yang kurang bersyukur atau takut miskin, ujar akademisi UINSA Ambon ini.
Manaf menutup diskusi kami pagi itu dengan mengungkapkan, secara klinis, rahim yang dipaksa bekerja tanpa jeda akibat ketakutan pada KB akan mengalami kelelahan biologis. Namun secara sosiologis, dampaknya lebih mengerikan: hilangnya kesempatan perempuan untuk berdaya secara ekonomi dan pendidikan.
‘’ Mitos kontrasepsi adalah rantai yang mengikat perempuan di dalam siklus domestik yang tak berujung, menciptakan generasi baru yang tumbuh dalam keterbatasan gizi (stunting) dan akses pendidikan yang rendah,’’ tukasnya.
*Jurnalis dan akademisi











