Catatan : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM,-Dalam sebuah debat yang disiarkan di layar kaca, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali sempat berselisih paham mengenai asal-usul kata hoax. Pertukaran argumen itu bukan sekadar adu gengsi, melainkan pertemuan dua kutub pemikiran: satu dari sisi komunikasi dan sejarah publik, lainnya dari sisi filsafat dan kritik akademik. Menariknya, jika kita menelusuri jejak istilah ini, keduanya berdiri di atas kebenaran yang berbeda konteks.
Mantra di Balik Tirai Panggung
Bagi Rhenald Kasali, hoax adalah anak kandung dari dunia pertunjukan. Akar etimologisnya bermuara pada abad ke-17 di Inggris, dari mantra populer para pesulap jalanan: “Hocus Pocus”.
Mantra ini sejatinya adalah alat pengalih perhatian saat tangan si pesulap sedang bekerja licin memanipulasi benda. Para ahli bahasa meyakini kata ini merupakan plesetan dari bahasa Latin “Hoc est corpus meum” yang bermakna “Inilah tubuh-Ku”. Pada akhir abad ke-18, kata hocus berevolusi menjadi kata kerja yang berarti menipu, hingga akhirnya diringkas menjadi hoax.
Istilah ini kemudian meledak secara massal pada tahun 1835 melalui kasus The Great Moon Hoax. Saat itu, surat kabar The Sun di New York mengecoh publik dengan laporan palsu mengenai penemuan peradaban manusia bersayap di bulan. Sejak itulah, hoax resmi menjadi istilah untuk informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk mengecoh massa.
Monumen Kepalsuan Sebelum Era Digital
Sejarah mencatat bahwa tanpa bantuan algoritma internet pun, manusia memiliki bakat alami untuk tertipu dalam skala kolosal:
-
Invasi Alien dari Radio (1938): Orson Welles menyiarkan drama radio War of the Worlds dengan format laporan berita darurat. Hasilnya, ribuan orang panik dan menyumbat jalanan karena mengira Bumi benar-benar sedang diserang makhluk Mars.
-
Pohon Spageti BBC (1957): Program berita serius Panorama menayangkan panen spageti dari pohon di Swiss. Penonton yang saat itu belum akrab dengan pasta pun berbondong-bondong menanyakan cara menanamnya di rumah.
-
Manusia Piltdown (1912): Selama 40 tahun, dunia sains tertipu oleh fragmen tengkorak manusia yang digabungkan dengan rahang orangutan yang giginya telah dikikir. Ini menjadi hoax sains terlama dalam sejarah.
-
Peri Cottingley (1917): Bahkan pencipta Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle, terkecoh oleh foto peri yang sebenarnya hanyalah potongan gambar buku cerita yang ditempel di kardus.
Eksperimen Sokal: Hoax Sebagai Senjata Kritik
Di sisi lain, Rocky Gerung membawa narasi yang lebih tajam lewat perspektif filsafat dengan mengulas sosok Alan Sokal. Fisikawan dari New York University ini melakukan apa yang kini dikenal sebagai Sokal Affair (1996).
Berbeda dengan penipuan demi keuntungan, Sokal menyusun hoax intelektual sebagai bentuk kritik pedas. Ia mengirimkan makalah berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” ke jurnal ternama, Social Text. Isinya adalah jargon fisika kuantum yang dicampur aduk secara sembarangan dengan istilah politik dan filsafat tanpa makna ilmiah yang benar.
Tujuannya? Sokal ingin membuktikan bahwa dunia akademik sering kali terjebak pada gaya bahasa yang terlihat “cerdas” namun hampa isi. Ketika jurnal tersebut menerbitkan tulisannya tanpa verifikasi, Sokal segera membongkar penipuannya sendiri, memicu debat besar yang disebut “Perang Sains” (Science Wars).
Titik Temu: Komunikasi dan Filsafat
Perdebatan antara Kasali dan Gerung sebenarnya memperlihatkan dua sisi dari koin yang sama. Kasali melihat hoax sebagai fenomena komunikasi massa dan evolusi bahasa, sementara Gerung melihatnya sebagai instrumen untuk menguji kejujuran intelektual.
Keduanya benar. Hoax bisa menjadi alat penipu jalanan, bahan lelucon media, hingga peluru kritik bagi seorang profesor. Pada akhirnya, sejarah panjang ini membuktikan satu hal: kerentanan manusia terhadap informasi palsu tidak bergantung pada teknologinya, melainkan pada sejauh mana kita bersedia mempertanyakan apa yang terlihat meyakinkan di depan mata.
*Jurnalis dan akademisi sedang jadi jihadis ilmu komunikasi S3












