Ambonkita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
terasmaluku
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
No Result
View All Result
Ambonkita.com
No Result
View All Result
Home Catatan Kita

Asal Usul HOAX : Rocky Gerung vs Rhenald Kasali

Editor by Editor
01/30/2026
Reading Time: 3 mins read
0
Asal Usul HOAX : Rocky Gerung vs Rhenald Kasali

Ilustrasi AI Debat Rocky Gerung dan Rhenald Kasali

RELATED POSTS

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

Catatan : Insany Syahbarwaty*

AMBONKITA.COM,-Dalam sebuah debat yang disiarkan di layar kaca, Rocky Gerung dan Rhenald Kasali sempat berselisih paham mengenai asal-usul kata hoax. Pertukaran argumen itu bukan sekadar adu gengsi, melainkan pertemuan dua kutub pemikiran: satu dari sisi komunikasi dan sejarah publik, lainnya dari sisi filsafat dan kritik akademik. Menariknya, jika kita menelusuri jejak istilah ini, keduanya berdiri di atas kebenaran yang berbeda konteks.

Mantra di Balik Tirai Panggung

Bagi Rhenald Kasali, hoax adalah anak kandung dari dunia pertunjukan. Akar etimologisnya bermuara pada abad ke-17 di Inggris, dari mantra populer para pesulap jalanan: “Hocus Pocus”.

Mantra ini sejatinya adalah alat pengalih perhatian saat tangan si pesulap sedang bekerja licin memanipulasi benda. Para ahli bahasa meyakini kata ini merupakan plesetan dari bahasa Latin “Hoc est corpus meum” yang bermakna “Inilah tubuh-Ku”. Pada akhir abad ke-18, kata hocus berevolusi menjadi kata kerja yang berarti menipu, hingga akhirnya diringkas menjadi hoax.

Istilah ini kemudian meledak secara massal pada tahun 1835 melalui kasus The Great Moon Hoax. Saat itu, surat kabar The Sun di New York mengecoh publik dengan laporan palsu mengenai penemuan peradaban manusia bersayap di bulan. Sejak itulah, hoax resmi menjadi istilah untuk informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk mengecoh massa.


Monumen Kepalsuan Sebelum Era Digital

Sejarah mencatat bahwa tanpa bantuan algoritma internet pun, manusia memiliki bakat alami untuk tertipu dalam skala kolosal:

  • Invasi Alien dari Radio (1938): Orson Welles menyiarkan drama radio War of the Worlds dengan format laporan berita darurat. Hasilnya, ribuan orang panik dan menyumbat jalanan karena mengira Bumi benar-benar sedang diserang makhluk Mars.

  • Pohon Spageti BBC (1957): Program berita serius Panorama menayangkan panen spageti dari pohon di Swiss. Penonton yang saat itu belum akrab dengan pasta pun berbondong-bondong menanyakan cara menanamnya di rumah.

  • Manusia Piltdown (1912): Selama 40 tahun, dunia sains tertipu oleh fragmen tengkorak manusia yang digabungkan dengan rahang orangutan yang giginya telah dikikir. Ini menjadi hoax sains terlama dalam sejarah.

  • Peri Cottingley (1917): Bahkan pencipta Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle, terkecoh oleh foto peri yang sebenarnya hanyalah potongan gambar buku cerita yang ditempel di kardus.


Eksperimen Sokal: Hoax Sebagai Senjata Kritik

Di sisi lain, Rocky Gerung membawa narasi yang lebih tajam lewat perspektif filsafat dengan mengulas sosok Alan Sokal. Fisikawan dari New York University ini melakukan apa yang kini dikenal sebagai Sokal Affair (1996).

Berbeda dengan penipuan demi keuntungan, Sokal menyusun hoax intelektual sebagai bentuk kritik pedas. Ia mengirimkan makalah berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” ke jurnal ternama, Social Text. Isinya adalah jargon fisika kuantum yang dicampur aduk secara sembarangan dengan istilah politik dan filsafat tanpa makna ilmiah yang benar.

Tujuannya? Sokal ingin membuktikan bahwa dunia akademik sering kali terjebak pada gaya bahasa yang terlihat “cerdas” namun hampa isi. Ketika jurnal tersebut menerbitkan tulisannya tanpa verifikasi, Sokal segera membongkar penipuannya sendiri, memicu debat besar yang disebut “Perang Sains” (Science Wars).


Titik Temu: Komunikasi dan Filsafat

Perdebatan antara Kasali dan Gerung sebenarnya memperlihatkan dua sisi dari koin yang sama. Kasali melihat hoax sebagai fenomena komunikasi massa dan evolusi bahasa, sementara Gerung melihatnya sebagai instrumen untuk menguji kejujuran intelektual.

Keduanya benar. Hoax bisa menjadi alat penipu jalanan, bahan lelucon media, hingga peluru kritik bagi seorang profesor. Pada akhirnya, sejarah panjang ini membuktikan satu hal: kerentanan manusia terhadap informasi palsu tidak bergantung pada teknologinya, melainkan pada sejauh mana kita bersedia mempertanyakan apa yang terlihat meyakinkan di depan mata.

*Jurnalis dan akademisi sedang jadi jihadis ilmu komunikasi S3

Buy JNews
ADVERTISEMENT
Tags: #HOAXasal usul hoaxdebatrhenald kasalirocky gerung
ShareTweetSendSendShare
Editor

Editor

Related Posts

Catatan Kita

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

04/22/2026
Hari Perempuan Internasional 2026:  Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos
Catatan Kita

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

03/08/2026
 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia
Catatan Kita

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

02/22/2026
Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara
Catatan Kita

Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara

02/17/2026
Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru
Catatan Kita

Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru

02/09/2026
Integritas Media dan Responsibilitas Negara
Catatan Kita

Integritas Media dan Responsibilitas Negara

02/08/2026
Next Post
Hoax Alat KB, Labirin Digital yang Menyesatkan

Hoax Alat KB, Labirin Digital yang Menyesatkan

Perilaku Masyarakat: Ketika Mitos Menjadi “Kebenaran Kolektif”

Perilaku Masyarakat: Ketika Mitos Menjadi "Kebenaran Kolektif"

Recommended Stories

Kapolda Maluku

Kapolda: Anggota DPRD Malteng yang tidak Ada di TKP Jangan Omong Besar Cari Popularitas Murahan

03/02/2023
Polda Maluku Antisipasi 103 TPS Sangat Rawan

Polda Maluku Antisipasi 103 TPS Sangat Rawan

02/05/2024
Polda Maluku

Sempat Diamankan Dua Mobil Tangki Solar Dilepas, Ini Penjelasan Polda Maluku

10/18/2022

Popular Stories

  • Kapolda Maluku

    Kapolda: Anggota DPRD Malteng yang tidak Ada di TKP Jangan Omong Besar Cari Popularitas Murahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beredar Foto Nikah Dua Aktor Porno yang Viral di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolresta Ambon Rotasi Tiga Kapolsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pohon Tumbang Timpa Ibu dan Anak di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gara-gara Tagih Hutang Warga Mangga Dua Ambon Diparangi Hingga Tewas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Terms and Conditions

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

No Result
View All Result
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In