Oleh: Olivia Ch. Salampessy*
AMBONKITA,-Pernikahan dalam banyak kebudayaan masih dipahami sebagai pencapaian penting dalam kehidupan perempuan. Ia dianggap sebagai fase kedewasaan, stabilitas, bahkan keberhasilan sosial. Namun di balik narasi ideal tersebut, terdapat pengalaman yang sering tidak dibicarakan secara terbuka: banyak perempuan justru mengalami penyempitan ruang diri setelah menikah.
Perubahan ini tidak selalu datang dari pasangan atau keluarga. Sering kali ia hadir dari konstruksi sosial yang telah lama menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri. Perempuan diharapkan mampu menjalankan banyak peran sekaligus, sebagai istri, ibu, pengelola rumah tangga, pendamping, pekerja, sekaligus penjaga harmoni keluarga. Dalam proses itu, kebutuhan personal dan identitas diri kerap menjadi hal yang dikorbankan terlebih dahulu.
Banyak perempuan tidak benar-benar kehilangan mimpi setelah menikah. Mereka hanya menundanya terlalu lama, sampai lupa bahwa mimpi itu pernah ada. Menjadi istri adalah peran yang indah. Menjadi ibu adalah anugerah. Tetapi menjadi perempuan yang tetap mengenal dirinya sendiri juga sama pentingnya.
Saya sering mendengar kalimat ini dari perempuan-perempuan yang saya temui:
“Aku sebenarnya tidak tahu lagi apa yang aku suka.”
Padahal, penguatan perempuan setelah menikah bukanlah ancaman bagi institusi keluarga. Sebaliknya, ia merupakan fondasi bagi keluarga yang sehat.
Perempuan yang memiliki ruang untuk bertumbuh akan lebih mampu membangun relasi yang setara dan saling menghargai. Ia tidak menjalani pernikahan dalam kondisi kelelahan emosional atau kehilangan arah, tetapi sebagai individu yang sadar akan nilai dirinya. Ketika perempuan mengenal dirinya, ia mampu berkomunikasi dengan lebih jujur, mengelola konflik secara sehat, dan membesarkan anak-anak dalam lingkungan yang stabil secara emosional.
Sayangnya, dalam banyak pengalaman pendampingan perempuan, persoalan yang muncul bukan semata-mata beban kerja domestik, melainkan hilangnya rasa memiliki terhadap diri sendiri. Banyak perempuan merasa tidak lagi dikenal sebagai individu, melainkan hanya melalui peran yang ia jalankan. Kondisi ini sering menjadi akar kelelahan, konflik relasi, bahkan masalah kesehatan mental yang tidak terlihat.
Menguatkan diri setelah menikah bukan berarti menjadi keras. Bukan juga berarti melawan pasangan. Menguatkan diri berarti berani tetap hadir sebagai diri sendiri di tengah peran baru. Kadang bentuknya sederhana. Memberi waktu untuk membaca, kembali menulis, juga bekerja dengan hati. Atau sekadar duduk diam tanpa merasa bersalah. Perempuan yang menjaga dirinya bukan perempuan egois. Ia sedang memastikan bahwa cintanya tidak lahir dari kelelahan.
Menguatkan perempuan setelah menikah berarti mengubah cara pandang kita terhadap pernikahan itu sendiri. Pernikahan bukanlah ruang penghapusan identitas, melainkan ruang pertumbuhan bersama. Pasangan tidak seharusnya saling mengecilkan, tetapi saling memperluas kemungkinan.
Ada beberapa hal sederhana yang dapat menjadi langkah awal. Pertama, mengakui bahwa perempuan tetap memiliki hak atas mimpi dan pengembangan diri setelah menikah. Kedua, membangun komunikasi yang sehat mengenai kebutuhan emosional dan pembagian peran. Ketiga, memberikan ruang bagi perempuan untuk memiliki waktu dan aktivitas yang dapat menjaga keseimbangan dirinya.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, terutama di wilayah kepulauan seperti di Maluku yang masih kuat dengan nilai komunal, penguatan perempuan juga memiliki dampak sosial yang lebih luas. Perempuan yang berdaya tidak hanya memperkuat keluarga, tetapi juga komunitas. Ia menjadi sumber ketahanan sosial, pendidikan nilai, dan penggerak perubahan di tingkat lokal.
Karena itu, menguatkan perempuan setelah menikah bukan semata isu perempuan. Ia adalah bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sehat dan adil. Pernikahan seharusnya tidak membuat perempuan kehilangan dirinya. Justru di dalamnya, perempuan berhak menemukan versi dirinya yang lebih utuh.
*penulis yang juga mantan Wakil Walikota Ambon serta mantan Anggota Komnas Perempuan










