Oleh: Olivia Chadidjah Salampessy
Mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komnas Perempuan
AMBONKITA.COM,- Setiap tahun dunia memperingati Hari Perempuan Internasional dengan berbagai slogan tentang kesetaraan dan pemberdayaan. Namun pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah apakah perempuan sudah benar-benar diberi ruang yang adil untuk memimpin?
Tema Hari Perempuan Internasional 2026, “Give to Gain,” mengingatkan kita bahwa memberi bukan sekadar tindakan moral, melainkan juga strategi kepemimpinan. Dalam banyak pengalaman kepemimpinan perempuan, memberi justru menjadi sumber pengaruh yang paling kuat.
Ketika seorang pemimpin memberi dukungan kepada perempuan untuk mengakses pendidikan, yang tumbuh bukan hanya satu individu, tetapi seluruh keluarga bahkan komunitasnya. Ketika pemimpin memberi kesempatan bagi perempuan untuk memimpin organisasi, usaha, atau komunitas, yang lahir bukan hanya pemimpin baru, tetapi juga jaringan kekuatan sosial yang lebih luas.
Sherly Laos: Alpha Female yang Tidak Mendominasi
Setiap kali perempuan muncul sebagai pemimpin yang kuat, publik sering kali buru-buru memberi label. Jika ia tegas, ia dianggap terlalu ambisius. Jika ia percaya diri, ia disebut dominan. Bahkan istilah alpha female sering digunakan dengan nada curiga, seolah perempuan yang memimpin dengan kuat sedang mencoba meniru model kepemimpinan yang selama ini dianggap milik laki-laki.
Padahal, kepemimpinan perempuan memiliki wajah yang berbeda. Ia tidak selalu lahir dari dorongan untuk menguasai, tetapi sering kali tumbuh dari kemampuan untuk memberi. Memberi ruang, memberi perhatian, memberi dukungan, dan memberi jalan bagi orang lain untuk ikut bertumbuh.
Di tengah stereotip itu, sosok Sherly Laos, Gubernur Maluku Utara, memberi gambaran lain tentang apa arti menjadi seorang alpha female. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin perempuan tidak harus ditunjukkan dengan mendominasi ruang, tetapi dengan menghadirkan kepekaan dalam memimpin.
Masih segar dalam ingatan, tayangan menarik di media sosial, cara Sherly Laos memecahkan masalah warga kampung nelayan untuk mau direlokasi ke tempat yang lebih aman dan sehat. Tanpa sungkan, ia melakukan negosiasi saling sahut-sahutan dengan warga yang agak jauh letaknya dengan posisi beliau berdiri. bernegosiasi seperti layaknya teman dekat sesama perempuan sebagai bentuk komunikasi sederhana tanpa jarak.
Jika banyak model kepemimpinan dibangun dari jarak antara pemimpin dan rakyat, maka kepemimpinan Sherly Laos justru bergerak melalui kedekatan. Hadir di tengah-tengah masyarakat dengan mengoptimalkan seluruh fungsi panca indera manusia. Melihat, mendengar dan merasakan warga masyarakat di kota maupun desa-desa yang jauh dari pusat pemerintahan. Melihat, mendengar dan merasakan perempuan yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan dan layan dasar, juga anak-anak yang tumbuh di pulau kecil dengan mimpi besar.
Dalam cara memimpin seperti ini, kekuatan tidak ditunjukkan dengan menekan orang lain, tetapi dengan membangun kepercayaan. Seorang pemimpin tidak berdiri sendirian di puncak, melainkan menggerakkan banyak orang untuk berjalan bersama.
Di sinilah makna alpha female perlu dipahami ulang. Ia bukan perempuan yang mendominasi, tetapi perempuan yang memiliki keberanian mengambil keputusan, sekaligus kerendahan hati untuk mendengar.
Memberi Sebagai Jalan Kepemimpinan
Kepemimpinan Sherly Laos menjadi semakin relevan dalam konteks Hari Perempuan Internasional 2026 dengan tema “Give to Gain.” Memberi perhatian, memberi ruang bagi partisipasi, dan memberi kesempatan bagi orang lain untuk berkembang justru menjadi sumber kekuatan dalam kepemimpinan.
Ia menunjukkan bahwa perempuan dapat memimpin dengan tegas tanpa kehilangan empati. Bahwa menjadi kuat tidak berarti harus menguasai, dan bahwa memberi bukanlah tanda kelemahan.
Jika melihat lebih jauh, kepemimpinan perempuan sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang politik. Setiap hari, di banyak tempat, perempuan memimpin tanpa pernah disebut sebagai pemimpin. Mereka memimpin keluarga, komunitas, organisasi sosial, bahkan ekonomi rumah tangga. Mereka memimpin dengan cara yang sederhana tetapi berdampak: memberi perhatian, memberi solusi, memberi dukungan bagi orang lain untuk bertahan dan berkembang.
Sayangnya, model kepemimpinan seperti ini sering kali tidak dianggap sebagai kepemimpinan. Ia dianggap sebagai bagian dari “peran alami perempuan”, bukan sebagai kapasitas kepemimpinan yang layak diakui.
Tema Give to Gain seharusnya menjadi pengingat bahwa memberi bukanlah tanda kelemahan. Dalam banyak kasus, justru dari memberi lahir pengaruh yang paling kuat.
Pemimpin yang memberi waktu untuk mendengar akan memperoleh kepercayaan. Pemimpin yang memberi ruang bagi partisipasi akan memperoleh dukungan. Pemimpin yang memberi kesempatan bagi orang lain untuk tumbuh akan membangun masyarakat yang lebih kuat.
Kepemimpinan perempuan menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus bekerja melalui dominasi. Ia bisa bekerja melalui relasi, empati, dan kemampuan membuka ruang bagi banyak orang untuk bertumbuh.










