Ambonkita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
terasmaluku
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
No Result
View All Result
Ambonkita.com
No Result
View All Result
Home Catatan Kita

Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara

Editor by Editor
02/17/2026
Reading Time: 2 mins read
0
Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara

Oleh: Olivia Chadidjah Salampessy*

RELATED POSTS

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru

AMBONKITA.COM,-Saat ini perempuan hadir di mana-mana. Di media sosial, layar televisi, iklan, film, hingga ruang berita. Perempuan ditampilkan sebagai visual yang harus menarik, menyenangkan, dan memenuhi standar tertentu. Pertanyaannya sederhana: apakah perempuan benar-benar hadir sebagai manusia utuh, atau hanya sebagai tampilan yang dinilai, dibandingkan, dan dikomentari?
Gambaran objektifikasi perempuan bukan sebagai fenomena baru. Ia sudah lama menjadi bagian dari cara media bekerja. Dalam sistem media yang digerakkan oleh rating, klik, dan algoritma, tubuh perempuan menjadi alat paling mudah untuk menarik perhatian. Representasi perempuan lebih sering dibingkai melalui standar kecantikan tertentu yang sempit. Harus cantik, muda, langsing, menarik, dan “layak dilihat”.
Nilai perempuan direduksi menjadi penampilan. Pengalaman, pemikiran, dan kontribusi sosial perempuan menjadi hilang dalam bingkai media. Pola ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan lahir dari sistem produksi konten yang menempatkan keuntungan ekonomi di atas martabat manusia. Ketika pesan ini diulang tanpa henti, ia akhirnya membentuk kesadaran kolektif masyarakat.

Media dan Standar yang Tidak Pernah Cukup

Perkembangan media saat ini menciptakan standar yang nyaris mustahil dicapai. Wajah tanpa cela, tubuh proporsional, kehidupan yang terlihat sempurna. Standar ini kemudian dikonsumsi berulang-ulang, hingga perlahan dianggap sebagai ukuran normal. Perempuan akhirnya tidak hanya dilihat oleh orang lain, tetapi juga mulai melihat dirinya sendiri melalui kacamata penilaian tersebut. Mereka belajar mengukur harga diri dari jumlah like, komentar, atau validasi visual.
Dalam banyak kasus, perempuan tidak lagi bertanya, “Apakah aku bahagia?”, tetapi “Apakah aku terlihat cukup baik?”
Inilah titik awal masalah kesehatan mental muncul. Bukan hanya karena objektifikasi yang dilakukan oleh pihak lain, melainkan juga dilakukan oleh dirinya sendiri (self objectification). Ini terjadi ketika perempuan terus menerus memperhatikan penampilannya dan berusaha untuk selalu tampil sempurna.
Perempuan terperangkap pada pada beban ganda yang harus diembannya. Di satu sisi perempuan dituntut untuk bisa menjadi individu utuh, sedangkan di sisi lain mereka harus tunduk pada hegemoni patriarki yang menempatkan perempuan dan tubuhnya menjadi objek yang sah-sah saja untuk dieksploitasi.

Agar mendapat pengakuan cantik dari masyarakat, munculah berbagai perilaku destruktif yang dilakukan perempuan pada tubuhnya, seperti diet ekstrim yang berujung anoreksia, ataupun prosedur pemutihan kulit secara instan yang berbahaya bagi kesehatan, dan lain sebagainya.

Media online seperti instagram dan facebook berpengaruh besar terhadap objektifikasi diri. Konsep “cantik” pada objektifikasi diri sering diamini oleh para pengguna media sosial berdasarkan tingginya traffic pengunjung dan angka like yang relatif tinggi walaupun dengan komentar yang cenderung seksis. Juga endorsement yang dilakukan menjadikan seolah-olah, tubuh perempuan merupakan aset yang bernilai jual tinggi dan menguntungkan sehingga harus senantiasa dieksploitasi.

Mengembalikan Perempuan sebagai Subjek

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Di tengah media yang bising, mungkin yang paling penting adalah memberi jeda. Tidak semua standar harus diikuti. Tidak semua penilaian harus diterima. Perempuan boleh tampil, boleh merasa cantik, boleh menikmati dirinya sendiri. Tetapi bukan karena harus memenuhi harapan siapa pun. Melainkan karena ia merasa utuh sebagai dirinya sendiri.
Yang perlu diubah bukan keberadaan perempuan di media, melainkan cara pandang terhadap perempuan. Perempuan bukan objek konsumsi visual, tetapi subjek dengan pengalaman, gagasan, dan suara.
Media memiliki tanggung jawab untuk menampilkan perempuan secara lebih utuh. Perempuan sebagai pemimpin, pekerja, ibu, pemikir, aktivis, dan individu dengan kompleksitas hidupnya. Representasi yang sehat bukan berarti menghilangkan estetika, tetapi mengembalikan keseimbangan antara penampilan dan makna.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar mengonsumsi media secara kritis. Tidak semua yang terlihat indah adalah standar hidup yang sehat.
Saya percaya, ketika perempuan berhenti melihat dirinya sebagai objek yang dinilai, ia mulai menemukan kembali suaranya. Dan mungkin, itu yang paling kita butuhkan hari ini, lebih banyak perempuan yang didengar, bukan sekadar dilihat.*

*Mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komnas Perempuan

Tags: #aktifisperempuanMaluku#perempuanMalukuperempuanperempuanliterasi
ShareTweetSendSendShare
Editor

Editor

Related Posts

Hari Perempuan Internasional 2026:  Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos
Catatan Kita

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

03/08/2026
 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia
Catatan Kita

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

02/22/2026
Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru
Catatan Kita

Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru

02/09/2026
Integritas Media dan Responsibilitas Negara
Catatan Kita

Integritas Media dan Responsibilitas Negara

02/08/2026
Mitos dan Hoax KB :  Rahim yang Dipenjara Kata-Kata
Catatan Kita

Mitos dan Hoax KB : Rahim yang Dipenjara Kata-Kata

01/31/2026
Perilaku Masyarakat: Ketika Mitos Menjadi “Kebenaran Kolektif”
Catatan Kita

Perilaku Masyarakat: Ketika Mitos Menjadi “Kebenaran Kolektif”

01/31/2026
Next Post
Rapim Polda Maluku 2026, Ini Penekanan Kapolda Terkait Program Kerja Prioritas

Rapim Polda Maluku 2026, Ini Penekanan Kapolda Terkait Program Kerja Prioritas

Bulan Ramadan, Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Stok BBM di Wilayah Maluku-Papua

Bulan Ramadan, Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Stok BBM di Wilayah Maluku-Papua

Recommended Stories

PON Banten, FPTI Maluku akan Kirim Satu Atlet

PON Banten, FPTI Maluku akan Kirim Satu Atlet

06/17/2025
kebakaran di passo

Bangunan Kos-kosan di Passo Ludes Terbakar

08/02/2022
Polwan Polda Maluku

Jelang HUT, Polwan dan Pengurus Bhayangkari Polda Maluku Gelar Olahraga Bersama, Ini Harapan Kapolda

08/26/2022

Popular Stories

  • Kapolda Maluku

    Kapolda: Anggota DPRD Malteng yang tidak Ada di TKP Jangan Omong Besar Cari Popularitas Murahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beredar Foto Nikah Dua Aktor Porno yang Viral di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolresta Ambon Rotasi Tiga Kapolsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pohon Tumbang Timpa Ibu dan Anak di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gara-gara Tagih Hutang Warga Mangga Dua Ambon Diparangi Hingga Tewas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Terms and Conditions

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

No Result
View All Result
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In