Catatan : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM,-Jika di masa lalu hoaks tentang rahim hanya berpindah dari mulut ke mulut di bawah rindang pohon kersen, kini ia bermigrasi ke dalam saku daster melalui layar gawai.
Di ruang kerjanya di kampus Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) yang tenang di kawasan Tanah Lapang Kecil,Kota Ambon, Mutiara Dara Utama menyesap kopinya sambil memandangi grafik yang melonjak. Ia menjelaskan bahwa kita tidak sedang sekadar melawan kebohongan, melainkan sedang melawan mesin yang dirancang untuk mencintai ketakutan.
“Mengapa narasi IUD yang ‘berjalan’ ke jantung lebih cepat melesat daripada infografis BKKBN yang rapi?” . Jawabannya terletak pada cara otak kita bekerja. Informasi resmi seringkali terasa seperti ceramah di ruang kelas—steril dan membosankan. Sebaliknya, hoaks hadir dengan unsur emosional yang meledak; ia menggunakan logika survival.
IUD yang menusuk organ vital bukan sekadar berita bohong, ia adalah film horor dalam format teks. Otak manusia purba kita dirancang untuk membagikan peringatan bahaya lebih cepat daripada kabar baik. Di sinilah infografis pemerintah kalah telak: ia bicara tentang kesehatan, sementara hoaks bicara tentang kematian.
Mutiara mengakui logika bisa dikalahkan oleh mitos, karena di dalam dunia echo chamber atau ruang gema hal ini menjadi mudah terjadi. Mutiara menggambarkan seorang ibu muda yang awalnya hanya merasa sedikit pusing setelah suntik KB. Ia mencari di kolom pencarian: “Efek samping KB suntik”.
Sekali ia mengklik satu video testimoni negatif yang dramatis, algoritma media sosial mulai bekerja seperti pelayan yang terlalu rajin. Esok harinya, beranda TikTok-nya akan penuh dengan kisah-kisah kegagalan KB. Algoritma tidak peduli pada kebenaran; ia hanya peduli pada durasi sang ibu menatap layar. Sang ibu pun terjebak dalam delusi bahwa seluruh dunia sedang mengalami penderitaan yang sama, hingga keraguan kecilnya berubah menjadi keyakinan yang keras kepala. Begitulah echo chamber itu bekerja di kepala sang ibu, sergah Mutiara.
Bandingkan dengan istilah “rahim kering”. Kata “kering” memberikan imajinasi tentang tanah yang pecah-pecah, ketandusan, dan hilangnya fungsi keperempuanan. Ia menyerang identitas, bukan sekadar kesehatan. Penggunaan diksi populer ini berhasil melumpuhkan logika kritis karena ia langsung menghujam rasa takut yang paling purba dalam diri manusia: ketakutan akan menjadi tidak berguna.
Saat diskusi berakhir, Mutiara menyentil satu catatan krusial bagi pemerintah. Data statistik dan angka-angka capaian BKKBN tidak akan pernah cukup untuk memenangkan peperangan ini. Angka adalah benda mati yang dingin.
“Kita tidak bisa melawan api dengan es batu,” ujarnya. Untuk melawan narasi ketakutan, pemerintah harus mulai bercerita. Mereka perlu menampilkan wajah-wajah bahagia, testimoni yang hangat, dan kisah-kisah tentang bagaimana sebuah keluarga kecil bisa menyekolahkan anak hingga sarjana karena perencanaan yang matang. Angka harus diubah menjadi manusia; statistik harus diubah menjadi empati.
Sebab di dunia digital yang bising ini, kebenaran yang sunyi akan selalu kalah oleh kebohongan yang berteriak.
*Jurnalis dan akademisi












