Oleh : Insany Syahbarwaty*
AMBONKITA.COM-SINGAPURA-MAKASSAR—Lanskap industri media global memasuki babak baru yang didominasi oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan tantangan keberlanjutan. Pekan pertama November 2025 menjadi titik krusial bagi jurnalis dari Indonesia Timur, yang membawa pulang cetak biru transformasi dari Asian Media Leaders Summit (AMLS) di Singapura, disusul dengan refleksi mendalam mengenai Mis/Disinformasi berbasis gender di Makassar.
Perjalanan ini menegaskan satu hal: AI bukan lagi pilihan, melainkan kunci akselerasi di ruang redaksi, sementara fact-checking harus ditingkatkan untuk melawan serangan disinformasi yang semakin canggih dan terstruktur, terutama yang menargetkan perempuan.
Panggung Global: AMLS 2025 Menetapkan Kompas AI
Digelar oleh WAN-IFRA (World Association of News Publishers) di Singapura, AMLS 2025 mempertemukan CEO, penerbit, dan pemimpin redaksi senior untuk merumuskan strategi keberlanjutan media digital. Isu utama yang mendominasi adalah kesiapan global dalam menghadapi disrupsi teknologi dan ketidakpastian ekonomi.
Strategi Kunci Keberlanjutan
Para pembicara kunci memaparkan model bisnis baru yang menitikberatkan pada tiga pilar utama: Monetisasi Pembaca (Reader Pay Model): Andrew Saunders, CEO dan Presiden The Globe and Mail (Kanada), menekankan bahwa pendapatan dari langganan digital harus menjadi fondasi utama bisnis, bukan sekadar pelengkap iklan. Strategi ini, yang menuntut langganan untuk akses penuh konten, diyakini sebagai kunci untuk mempertahankan jurnalisme independen, akurat, dan otentik.
Diversifikasi Pendapatan: Selain langganan dan iklan, The Globe and Mail menunjukkan perlunya menggali sumber pendapatan komersial di luar berita tradisional, seperti penyelenggaraan acara, konferensi, hingga layanan edukasi.
Investasi Teknologi dan AI: Kuek Yu Chuang, Deputy Chief Executive Officer (DCEO) SPH Media (Singapura), menegaskan bahwa pemanfaatan AI dan data dalam operasional redaksi adalah keniscayaan. SPH Media, yang bertransformasi menjadi entitas nirlaba, berupaya keras mengintegrasikan branded content dan diversifikasi komersial untuk mendukung misi jurnalisme berkualitas tinggi.
AMLS 2025 mempertegas bahwa AI harus menjadi alat untuk keberlanjutan bisnis, bukan hanya pelengkap operasional. Hal ini sejalan dengan tema AMLS sebelumnya, di mana fokus telah bergeser dari sekadar monetisasi pasca-pandemi (2024) dan strategi langganan (2023) menuju Transformasi Komersial Mendalam dan Pemanfaatan AI (2025).
Tantangan Lokal: Melawan Disinformasi Berbasis Gender di Makassar
Setelah mendapatkan wawasan global di Singapura, perjalanan dilanjutkan ke Makassar dalam kegiatan kolaboratif BBC Media Action dan Kabar Makassar. Fokus bergeser dari keberlanjutan bisnis ke integritas konten, khususnya dalam konteks perlawanan terhadap mis/disinformasi berbasis gender.
Pelatihan ini menyoroti bahwa di tengah rendahnya literasi media dan kecepatan AI memproduksi informasi palsu, jurnalis perempuan menghadapi pekerjaan rumah ganda:
Kerentanan Serangan: Pravita Kusumaningtias dari BBC Media Action menjelaskan bahwa mis/dis dan malinformasi berbasis gender seringkali berupa serangan terstruktur yang menargetkan perempuan yang aktif di ranah publik atau politik, berpotensi merusak reputasi hingga menciptakan bahaya di dunia nyata.
Kekerasan Berkolerasi: Catatan AJI dan PR2M (2022) menunjukkan tingginya angka kekerasan seksual terhadap jurnalis perempuan (82,6%), yang diyakini berkolerasi dengan kurangnya edukasi isu gender dan budaya patriarki, yang kemudian dimanfaatkan oleh narasi disinformasi.
Chief Editor Konde.co, Luviana Ariyani, dan Astudestra Ajengrastri dari BBC Indonesia menekankan pentingnya jurnalis mampu mengidentifikasi bias gender dan memetakan mis/dis/malinformasi untuk menjalankan fungsi edukasi bagi masyarakat.
Fact-Checking: Etika Manusia vs. Akselerasi AI
Sesi lanjutan dalam Training Advanced Tracking AI yang diantarkan oleh Heru Margianto (Managing Editor Kompas.com) dan Luca Cada Lora (AI Expert) merangkum garis demarkasi antara etika jurnalistik dan kemampuan teknologi.
Prinsip Utama Fact-Checking (Heru Margianto):
Heru Margianto menegaskan bahwa teknik fact-checking tetap berpusat pada keputusan dan etika jurnalis. Teknik yang wajib diterapkan meliputi:
Verifikasi Sumber Kredibel: Sumber harus independen, otoritatif, dan relevan.
Analisis Bukti Mendalam: Mengumpulkan data, statistik, dan dokumen resmi untuk menguatkan atau menyanggah.
Analisis Konten Visual: Menggunakan reverse image search dan alat analisis metadata untuk mengecek keaslian dan konteks foto/video.
Penelusuran Konteks: Memastikan klaim disajikan dalam konteks yang benar, bukan informasi lama dengan narasi baru.
Peran AI sebagai Akselerator (Luca Cada Lora):
Luca Cada Lora memaparkan bagaimana AI berfungsi sebagai akselerator yang kuat, bukan sebagai pengganti jurnalis:
Identifikasi Anomali: Tools AI dapat memindai media sosial secara masif untuk menandai klaim yang berpotensi palsu atau mencurigakan agar segera diverifikasi manusia.
Pendeteksi Manipulasi: AI membantu mendeteksi deepfake (video/audio palsu buatan AI) dan manipulasi gambar yang kompleks.
Otomasi Tugas: Mempermudah kerja jurnalis dengan transkripsi cepat, peringkasan dokumen panjang, dan pembuatan berita berbasis data rutin.
Garis Bawah Etika: Kedua pakar sepakat, AI memerlukan pengawasan ketat untuk mencegah bias algoritma, dan ruang redaksi harus transparan mengenai kapan AI digunakan untuk menjaga akuntabilitas.
Wawasan dari Singapura dan Makassar menjadi bekal berharga bagi jurnalis Indonesia Timur, menegaskan bahwa masa depan jurnalisme terletak pada integrasi cerdas antara AI untuk efisiensi dan penguatan etika serta keahlian fact-checking manusia untuk kredibilitas dan perlawanan terhadap disinformasi. (*)
(*) penulis adalah jurnalis Terasmaluku.com dan Ambonkita.com, dosen komunikasi bisnis digital di sejumlah kampus, kini sedang mengejar cita-cita meraih doktor komunikasi bisnis digital












