Oleh: Olivia Chadidjah Salampessy*

Ucapan selamat Hari Lanjut Usia Nasional, 29 Mei 2026 bertajuk ‘Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ tampak ramai menghiasi jagat media sosial. Tema yang mengajak kita semua melihat kelompok lanjut usia bukan sebagai beban, melainkan sebagai fondasi kekuatan bangsa yang mandiri, aktif, dan berdaya,
Namun, ketika narasi ketangguhan ini ditarik ke wilayah kepulauan seperti Maluku, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa ketangguhan tersebut tidak lahir di ruang hampa. Di balik deburan ombak dan gugusan pulau-pulau indah, perempuan lansia di Maluku harus melewati perjuangan fisik yang luar biasa demi bertahan hidup. Di sinilah tanggung jawab negara diuji untuk mengubah kerentanan menjadi ketangguhan yang nyata.
Potret Getir dari Saparua
Narasi ketangguhan ini mengingatkan saya pada kisah pilu Nenek Fransina Tamaela, usia 69 tahun dari Desa Haria, Maluku Tengah, yang terungkap di awal Februari 2026.
Seorang perempuan lanjut usia yang mengalami penelantaran ekstrim. Hidup memprihatinkan di gubuk sederhana beralas tanah, berdinding gaba-gaba dan daun rumbia, tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa fasilitas kesehatan yang memadai. Ditemani dua anak perempuan yang mengalami keterbelakangan mental dan tiga cucu yang masih kecil, selama bertahun-tahun bertahan hidup dari hasil hutan dan sagu sekadarnya. Bahkan ada hari-hari ketika mereka tidak makan sama sekali. Kondisi itu baru diketahui publik setelah petugas kesehatan dan pemerintah setempat mendatangi lokasi tempat tinggal mereka yang berada sekitar dua kilometer dari pemukiman warga dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Kisah Nenek Fransina bukan sekadar kisah kemiskinan, melainkan aIaram keras, serta cermin yang memantulkan wajah lain dari pembangunan yang sering luput kita lihat, yakni wajah perempuan lansia di wilayah kepulauan. Ia mewakili puncak gunung es dari ribuan perempuan lansia di pelosok kepulauan Maluku yang terjebak dalam kemiskinan ekstrim, keterbatasan fisik, dan ketiadaan perlindungan sosial yang menjangkau mereka secara proaktif.
Kerentanan Berlapis Perempuan Lansia di Wilayah Kepulauan
Secara nasional, angka harapan hidup perempuan memang lebih tinggi daripada laki-laki, yang membuat populasi lansia didominasi oleh perempuan. Namun di perdesaan Maluku dengan angka kemiskinan mencapai 24,01%, usia panjang ini sering kali dibarengi dengan kerentanan berlapis. Terlebih bagi perempuan sering menghadapi beban yang lebih berat. Mereka menghabiskan masa mudanya untuk merawat keluarga, membesarkan anak, menjaga rumah tangga, bekerja di kebun, menjual hasil laut, atau menopang ekonomi keluarga dari sektor informal. Namun ketika memasuki usia tua, sebagian besar dari mereka tidak memiliki jaminan pensiun, tidak memiliki tabungan yang cukup, bahkan tidak memiliki akses perlindungan sosial yang memadai.
Juga fenomena urbanisasi oleh generasi muda yang mencari kerja di Ambon, maupun kota kabupaten lainnya, meninggalkan para perempuan lansia hidup sendiri, rentan terhadap penelantaran dan keterbatasan pemenuhan kesehatan.
Mereka pernah menjadi penyangga kehidupan. Tetapi ketika tenaga mulai melemah, sering kali mereka justru menjadi kelompok yang paling tidak terlihat. Kisah nenek Fransina memperlihatkan itu dengan sangat jelas.
Di usia ketika seseorang seharusnya mendapatkan perawatan dan perlindungan, ia justru masih harus mengurus anak-anak yang membutuhkan pendampingan khusus sekaligus cucu-cucu yang masih kecil. Ia tidak hanya menanggung beban dirinya sendiri, tetapi juga menjadi penopang terakhir bagi keluarganya.
Tanggung Jawab Negara Mengubah Beban Menjadi Ketangguhan
Tema ‘Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ menegaskan bahwa pertumbuhan kualitas hidup harus dirasakan merata oleh seluruh generasi, termasuk mereka yang berada di pulau terluar. Lansia tidak boleh diposisikan sekadar sebagai penerima bantuan sosial pasif, tetapi hak-hak dasarnya wajib dipenuhi secara struktural oleh negara.
Maluku membutuhkan pendekatan yang lebih serius dalam perlindungan perempuan lansia. Layanan kesehatan lansia harus menjangkau seluruh pulau-pulau. Data warga yang rentan harus diperbarui secara berkala, dengan sistem pendataan yang aktif (jemput bola). Perempuan lansia yang hidup sendiri harus mendapatkan prioritas. Begitupula dukungan terhadap keluarga pengasuh lansia juga harus diperkuat. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat perlu kembali membangun budaya kalesang sosial terhadap para orang tua yang hidup di sekitar mereka.
Sesungguhnya banyak perempuan lansia di Maluku tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup dengan layak. Makan yang cukup. Berobat ketika sakit. Tinggal di rumah yang aman, dan merasa bahwa keberadaan mereka masih dihargai.
Kisah Nenek Fransina Tamaela seharusnya tidak berhenti sebagai berita yang mengundang rasa iba sesaat. Ia harus menjadi alarm sosial. Menjadi pengingat bahwa di balik slogan pembangunan, masih ada perempuan-perempuan tua yang sedang berjuang mempertahankan hidup dalam kesunyian.
Mereka pernah menjaga kita. Jangan biarkan mereka menua sendirian. Karena kemajuan bangsa juga diukur dari cara kita menghormati para lansia.
Pembangunan bukan hanya soal banyaknya gedung yang semakin tinggi. Tetapi juga tentang memastikan para lansia, terutama perempuan, tetap hidup aman, dihargai, dan tidak ditinggalkan.(*)
Mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komnas Perempuan*








