Ambonkita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
terasmaluku
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita
No Result
View All Result
Ambonkita.com
No Result
View All Result
Home Catatan Kita

Menjadi Tua di Kepulauan: Kisah Nenek Fransina dan Tanggung Jawab Negara Terhadap Perempuan Lansia di Maluku.

Editor by Editor
06/02/2026
Reading Time: 3 mins read
0

Oleh: Olivia Chadidjah Salampessy*

RELATED POSTS

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

Olivia Ch. Salampessy, penulis adalah mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komas Perempuan

Ucapan selamat Hari Lanjut Usia Nasional, 29 Mei 2026 bertajuk ‘Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ tampak ramai menghiasi jagat media sosial. Tema yang mengajak kita semua melihat kelompok lanjut usia bukan sebagai beban, melainkan sebagai fondasi kekuatan bangsa yang mandiri, aktif, dan berdaya,

Namun, ketika narasi ketangguhan ini ditarik ke wilayah kepulauan seperti Maluku, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa ketangguhan tersebut tidak lahir di ruang hampa. Di balik deburan ombak dan gugusan pulau-pulau indah, perempuan lansia di Maluku harus melewati perjuangan fisik yang luar biasa demi bertahan hidup. Di sinilah tanggung jawab negara diuji untuk mengubah kerentanan menjadi ketangguhan yang nyata.

Potret Getir dari Saparua

Narasi ketangguhan ini mengingatkan saya pada kisah pilu Nenek Fransina Tamaela, usia 69 tahun dari Desa Haria, Maluku Tengah, yang terungkap di awal Februari 2026.

Seorang perempuan lanjut usia yang mengalami penelantaran ekstrim. Hidup memprihatinkan di gubuk sederhana beralas tanah, berdinding gaba-gaba dan daun rumbia, tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa fasilitas kesehatan yang memadai. Ditemani dua anak perempuan yang mengalami keterbelakangan mental dan tiga cucu yang masih kecil, selama bertahun-tahun  bertahan hidup dari hasil hutan dan sagu sekadarnya. Bahkan ada hari-hari ketika mereka tidak makan sama sekali. Kondisi itu baru diketahui publik setelah petugas kesehatan dan pemerintah setempat mendatangi lokasi tempat tinggal mereka yang berada sekitar dua kilometer dari pemukiman warga dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Kisah Nenek Fransina bukan sekadar kisah kemiskinan, melainkan aIaram keras, serta cermin yang memantulkan wajah lain dari pembangunan yang sering luput kita lihat, yakni wajah perempuan lansia di wilayah kepulauan. Ia mewakili puncak gunung es dari ribuan perempuan lansia di pelosok kepulauan Maluku yang terjebak dalam kemiskinan ekstrim, keterbatasan fisik, dan ketiadaan perlindungan sosial yang menjangkau mereka secara proaktif.

Buy JNews
ADVERTISEMENT

Kerentanan Berlapis Perempuan Lansia di Wilayah Kepulauan

Secara nasional, angka harapan hidup perempuan memang lebih tinggi daripada laki-laki, yang membuat populasi lansia didominasi oleh perempuan. Namun di perdesaan Maluku dengan angka kemiskinan mencapai 24,01%, usia panjang ini sering kali dibarengi dengan kerentanan berlapis. Terlebih bagi perempuan sering menghadapi beban yang lebih berat. Mereka menghabiskan masa mudanya untuk merawat keluarga, membesarkan anak, menjaga rumah tangga, bekerja di kebun, menjual hasil laut, atau menopang ekonomi keluarga dari sektor informal. Namun ketika memasuki usia tua, sebagian besar dari mereka tidak memiliki jaminan pensiun, tidak memiliki tabungan yang cukup, bahkan tidak memiliki akses perlindungan sosial yang memadai.

Juga fenomena urbanisasi oleh generasi muda yang mencari kerja di Ambon, maupun kota kabupaten lainnya, meninggalkan para perempuan lansia hidup sendiri, rentan terhadap penelantaran dan keterbatasan pemenuhan kesehatan.

Mereka pernah menjadi penyangga kehidupan. Tetapi ketika tenaga mulai melemah, sering kali mereka justru menjadi kelompok yang paling tidak terlihat. Kisah nenek Fransina memperlihatkan itu dengan sangat jelas.

Di usia ketika seseorang seharusnya mendapatkan perawatan dan perlindungan, ia justru masih harus mengurus anak-anak yang membutuhkan pendampingan khusus sekaligus cucu-cucu yang masih kecil. Ia tidak hanya menanggung beban dirinya sendiri, tetapi juga menjadi penopang terakhir bagi keluarganya.

Tanggung Jawab Negara Mengubah Beban Menjadi Ketangguhan

Tema ‘Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ menegaskan bahwa pertumbuhan kualitas hidup harus dirasakan merata oleh seluruh generasi, termasuk mereka yang berada di pulau terluar. Lansia tidak boleh diposisikan sekadar sebagai penerima bantuan sosial pasif, tetapi hak-hak dasarnya wajib dipenuhi secara struktural oleh negara.

Maluku membutuhkan pendekatan yang lebih serius dalam perlindungan perempuan lansia. Layanan kesehatan lansia harus menjangkau seluruh pulau-pulau. Data warga yang rentan harus diperbarui secara berkala, dengan sistem pendataan yang aktif (jemput bola). Perempuan lansia yang hidup sendiri harus mendapatkan prioritas. Begitupula dukungan terhadap keluarga pengasuh lansia juga harus diperkuat. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat perlu kembali membangun budaya kalesang sosial terhadap para orang tua yang hidup di sekitar mereka.

Sesungguhnya banyak perempuan lansia di Maluku tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup dengan layak. Makan yang cukup. Berobat ketika sakit. Tinggal di rumah yang aman, dan merasa bahwa keberadaan mereka masih dihargai.

Kisah Nenek Fransina Tamaela seharusnya tidak berhenti sebagai berita yang mengundang rasa iba sesaat. Ia harus menjadi alarm sosial. Menjadi pengingat bahwa di balik slogan pembangunan, masih ada perempuan-perempuan tua yang sedang berjuang mempertahankan hidup dalam kesunyian.

Mereka pernah menjaga kita. Jangan biarkan mereka menua sendirian. Karena kemajuan bangsa juga diukur dari cara kita menghormati para lansia.

Pembangunan bukan hanya soal banyaknya gedung yang semakin tinggi. Tetapi juga tentang memastikan para lansia, terutama perempuan, tetap hidup aman, dihargai, dan tidak ditinggalkan.(*)

Mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komnas Perempuan*

Tags: Hari Lansiakomnas perempuanolivia salampessypenulis Perempuan Maluku
ShareTweetSendSendShare
Editor

Editor

Related Posts

Catatan Kita

Ketika Candaan Melanggar Hukum: Membaca Ulang Perjuangan Kartini Kini

04/22/2026
Hari Perempuan Internasional 2026:  Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos
Catatan Kita

Hari Perempuan Internasional 2026: Alpha Female Yang Memberi: Belajar dari Sherly Laos

03/08/2026
 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia
Catatan Kita

 Menguliti “Kemitraan” dalam Perjanjian Dagang AS–Indonesia

02/22/2026
Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara
Catatan Kita

Objektifikasi Perempuan di Media: Ketika Tubuh Lebih Didengar daripada Suara

02/17/2026
Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru
Catatan Kita

Menguatkan Perempuan Setelah Menikah: Menjaga Diri di Tengah Peran Baru

02/09/2026
Integritas Media dan Responsibilitas Negara
Catatan Kita

Integritas Media dan Responsibilitas Negara

02/08/2026

Recommended Stories

Luis Suarez, ngga tahu alasan Barcelona melepasnya

Luis Suarez, ngga tahu alasan Barcelona melepasnya

02/07/2021
Wali Kota Ambon Bantah Ada Titipan Sekot

Wali Kota Ambon Bantah Ada Titipan Sekot

04/12/2022
Pandemi Covid-19, Dishub Ambon Tetap Tertibkan Parkiran Liar

Pandemi Covid-19, Dishub Ambon Tetap Tertibkan Parkiran Liar

08/04/2020

Popular Stories

  • Kapolda Maluku

    Kapolda: Anggota DPRD Malteng yang tidak Ada di TKP Jangan Omong Besar Cari Popularitas Murahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beredar Foto Nikah Dua Aktor Porno yang Viral di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapolresta Ambon Rotasi Tiga Kapolsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pohon Tumbang Timpa Ibu dan Anak di Ambon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gara-gara Tagih Hutang Warga Mangga Dua Ambon Diparangi Hingga Tewas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Terms and Conditions

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

No Result
View All Result
  • Ambonku
  • Hukum Kriminal
  • Maluku
  • Nasional
  • Politik
  • Olahraga
  • advetorial
  • Catatan Kita

© 2025 PT Medira Media Sejahtera

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In