Oleh: Olivia Chadidjah Salampessy*
AMBONKITA.COM,-Saat ini perempuan hadir di mana-mana. Di media sosial, layar televisi, iklan, film, hingga ruang berita. Perempuan ditampilkan sebagai visual yang harus menarik, menyenangkan, dan memenuhi standar tertentu. Pertanyaannya sederhana: apakah perempuan benar-benar hadir sebagai manusia utuh, atau hanya sebagai tampilan yang dinilai, dibandingkan, dan dikomentari?
Gambaran objektifikasi perempuan bukan sebagai fenomena baru. Ia sudah lama menjadi bagian dari cara media bekerja. Dalam sistem media yang digerakkan oleh rating, klik, dan algoritma, tubuh perempuan menjadi alat paling mudah untuk menarik perhatian. Representasi perempuan lebih sering dibingkai melalui standar kecantikan tertentu yang sempit. Harus cantik, muda, langsing, menarik, dan “layak dilihat”.
Nilai perempuan direduksi menjadi penampilan. Pengalaman, pemikiran, dan kontribusi sosial perempuan menjadi hilang dalam bingkai media. Pola ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan lahir dari sistem produksi konten yang menempatkan keuntungan ekonomi di atas martabat manusia. Ketika pesan ini diulang tanpa henti, ia akhirnya membentuk kesadaran kolektif masyarakat.
Media dan Standar yang Tidak Pernah Cukup
Perkembangan media saat ini menciptakan standar yang nyaris mustahil dicapai. Wajah tanpa cela, tubuh proporsional, kehidupan yang terlihat sempurna. Standar ini kemudian dikonsumsi berulang-ulang, hingga perlahan dianggap sebagai ukuran normal. Perempuan akhirnya tidak hanya dilihat oleh orang lain, tetapi juga mulai melihat dirinya sendiri melalui kacamata penilaian tersebut. Mereka belajar mengukur harga diri dari jumlah like, komentar, atau validasi visual.
Dalam banyak kasus, perempuan tidak lagi bertanya, “Apakah aku bahagia?”, tetapi “Apakah aku terlihat cukup baik?”
Inilah titik awal masalah kesehatan mental muncul. Bukan hanya karena objektifikasi yang dilakukan oleh pihak lain, melainkan juga dilakukan oleh dirinya sendiri (self objectification). Ini terjadi ketika perempuan terus menerus memperhatikan penampilannya dan berusaha untuk selalu tampil sempurna.
Perempuan terperangkap pada pada beban ganda yang harus diembannya. Di satu sisi perempuan dituntut untuk bisa menjadi individu utuh, sedangkan di sisi lain mereka harus tunduk pada hegemoni patriarki yang menempatkan perempuan dan tubuhnya menjadi objek yang sah-sah saja untuk dieksploitasi.
Agar mendapat pengakuan cantik dari masyarakat, munculah berbagai perilaku destruktif yang dilakukan perempuan pada tubuhnya, seperti diet ekstrim yang berujung anoreksia, ataupun prosedur pemutihan kulit secara instan yang berbahaya bagi kesehatan, dan lain sebagainya.
Media online seperti instagram dan facebook berpengaruh besar terhadap objektifikasi diri. Konsep “cantik” pada objektifikasi diri sering diamini oleh para pengguna media sosial berdasarkan tingginya traffic pengunjung dan angka like yang relatif tinggi walaupun dengan komentar yang cenderung seksis. Juga endorsement yang dilakukan menjadikan seolah-olah, tubuh perempuan merupakan aset yang bernilai jual tinggi dan menguntungkan sehingga harus senantiasa dieksploitasi.
Mengembalikan Perempuan sebagai Subjek
Di tengah media yang bising, mungkin yang paling penting adalah memberi jeda. Tidak semua standar harus diikuti. Tidak semua penilaian harus diterima. Perempuan boleh tampil, boleh merasa cantik, boleh menikmati dirinya sendiri. Tetapi bukan karena harus memenuhi harapan siapa pun. Melainkan karena ia merasa utuh sebagai dirinya sendiri.
Yang perlu diubah bukan keberadaan perempuan di media, melainkan cara pandang terhadap perempuan. Perempuan bukan objek konsumsi visual, tetapi subjek dengan pengalaman, gagasan, dan suara.
Media memiliki tanggung jawab untuk menampilkan perempuan secara lebih utuh. Perempuan sebagai pemimpin, pekerja, ibu, pemikir, aktivis, dan individu dengan kompleksitas hidupnya. Representasi yang sehat bukan berarti menghilangkan estetika, tetapi mengembalikan keseimbangan antara penampilan dan makna.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar mengonsumsi media secara kritis. Tidak semua yang terlihat indah adalah standar hidup yang sehat.
Saya percaya, ketika perempuan berhenti melihat dirinya sebagai objek yang dinilai, ia mulai menemukan kembali suaranya. Dan mungkin, itu yang paling kita butuhkan hari ini, lebih banyak perempuan yang didengar, bukan sekadar dilihat.*
*Mantan Wakil Walikota Ambon dan Wakil Ketua Komnas Perempuan










