Dari Gereja Nafiri Sion, Kapolda Maluku Serukan Persatuan, Perbedaan Jadi Kekuatan

16 August 2026, 14:37
Penulis: Editor

AMBONKITA.COM,— Dari Gereja GPM Nafiri Sion Jemaat Passo, Kota Ambon, Kapolda Maluku Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, menyerukan pesan persatuan kepada seluruh masyarakat Maluku. Ia mengajak keberagaman agama, adat, budaya dan latar belakang sosial tidak menjadi celah perpecahan, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun daerah dan menjaga keutuhan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Kapolda saat melaksanakan silaturahmi dan penyampaian Kamtibmas bersama keluarga besar GPM Nafiri Sion Jemaat Passo, Klasis Pulau Ambon Timur, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Minggu (16/8/2026).

Silaturahmi yang berlangsung sejak pukul 09.30 WIT tersebut dihadiri Pdt. Lan Latumeten, Majelis Jemaat GPM Passo, para jemaat, serta sejumlah pejabat dan personel Polda Maluku. Pertemuan itu menjadi bagian dari pendekatan Polri untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi lintas elemen dalam menjaga keamanan dan persatuan di Maluku.

Kapolda menegaskan, kehadiran Polisi di tengah masyarakat tidak boleh hanya dirasakan ketika terjadi gangguan keamanan atau ketika masyarakat membutuhkan penegakan hukum. Polri harus hadir untuk mendengar, berkomunikasi, membangun kepercayaan dan bekerja bersama masyarakat.

“Kami ingin Polisi hadir lebih dekat, hadir untuk mendengarkan, hadir untuk berkomunikasi, hadir untuk membangun kepercayaan, dan hadir bersama-sama masyarakat dalam menjaga kehidupan yang aman, damai dan harmonis,” ujar Dadang.

Dari Rumah Ibadah, Pesan Persatuan untuk Maluku

Menurut Kapolda, rumah ibadah memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan sosial masyarakat. Gereja, masjid, pura, klenteng dan tempat ibadah lainnya bukan hanya ruang menjalankan kehidupan keagamaan, tetapi juga menjadi tempat menanamkan nilai moral, membangun karakter, memperkuat kepedulian dan merawat persaudaraan.

Nilai-nilai keagamaan, kata Dadang, dapat menjadi fondasi kuat untuk membentuk masyarakat yang saling menghormati, saling menjaga dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat merusak persatuan.

Dalam konteks Maluku yang memiliki keberagaman agama, adat istiadat, budaya, bahasa dan latar belakang sosial, persatuan menjadi modal sosial yang harus terus dirawat.

Kapolda mengingatkan bahwa sejarah memberikan pelajaran penting mengenai bahaya politik memecah belah. Karena itu, masyarakat tidak boleh membiarkan perbedaan dimanfaatkan sebagai alat untuk mempertentangkan kelompok satu dengan kelompok lainnya.

“Kekuatan Maluku ada pada persaudaraan. Kekuatan Maluku ada pada kekeluargaan. Kekuatan Maluku ada pada gotong royong. Dan kekuatan Maluku ada pada kemampuan kita untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan,” tegasnya.

Pesan tersebut, menurut Kapolda, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi salah satu fondasi kehidupan kebangsaan Indonesia.

Keberagaman, kata dia, bukan kelemahan bangsa, melainkan kekuatan yang harus dikelola dengan semangat saling menghormati.

Keamanan Bukan Sekadar Urusan Polisi

Kapolda kemudian mengaitkan persatuan dengan aspek yang lebih luas, yakni keamanan sebagai fondasi pembangunan.

Menurutnya, masyarakat sering kali baru menyadari nilai keamanan ketika kondisi tersebut terganggu. Padahal, keamanan memberikan ruang bagi masyarakat untuk bekerja, anak-anak bersekolah, umat beribadah, pelaku usaha menjalankan aktivitas ekonomi, serta pemerintah melaksanakan pembangunan.

“Keamanan bukan hanya urusan Polisi. Keamanan adalah urusan kita semua. Di tempat yang aman, investasi dapat tumbuh, pariwisata dapat berkembang, perdagangan dapat berjalan, masyarakat dapat bekerja dan perekonomian dapat berputar,” jelas Dadang.

Sebaliknya, gangguan keamanan dapat menimbulkan efek berantai terhadap pembangunan. Ketidakamanan dapat membuat masyarakat kehilangan rasa nyaman, menghambat aktivitas ekonomi, mengurangi minat wisatawan dan membuat pelaku usaha maupun investor mempertimbangkan kembali rencana mereka.

Karena itu, menjaga Kamtibmas harus dipandang sebagai bagian dari menjaga masa depan daerah.

Polri, TNI, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, dunia pendidikan dan seluruh masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.

Cegah Konflik Sebelum Membesar

Kapolda juga mengingatkan pentingnya mencegah potensi bentrokan antarkelompok maupun antarkampung sejak dini.

Menurutnya, setiap persoalan yang muncul di masyarakat harus segera diselesaikan melalui komunikasi, musyawarah dan pendekatan persuasif agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Pengalaman sosial yang pernah terjadi di Maluku, kata Dadang, harus menjadi pelajaran agar masyarakat semakin matang dalam menghadapi perbedaan dan tidak mudah terprovokasi.

Ia juga memberikan perhatian terhadap potensi tawuran pelajar yang dapat merusak masa depan generasi muda.

Pencegahan, menurutnya, tidak dapat hanya dibebankan kepada Kepolisian. Keluarga, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lingkungan pergaulan memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda.

Polda Maluku terus mengembangkan pendekatan preventif, salah satunya melalui program Polisi Mengajar di sekolah-sekolah.

Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk memberikan pemahaman mengenai hukum dan Kamtibmas, tetapi juga membangun kesadaran bahwa generasi muda merupakan calon pemimpin yang akan menentukan masa depan Maluku.

“Tugas kita hari ini bukan hanya menjaga hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan. Anak-anak kita adalah generasi yang nantinya akan memimpin, menjaga negeri ini dan membangun Maluku,” kata Kapolda.

Narkoba: Tidak Ada Toleransi di Internal Polri

Dalam silaturahmi tersebut, Kapolda juga mengingatkan masyarakat mengenai ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Menurutnya, narkoba tidak mengenal agama, suku, status sosial, pekerjaan maupun jabatan. Karena itu, keluarga harus menjadi benteng pertama untuk mencegah anak-anak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

Orang tua diminta membangun komunikasi terbuka, mengenali lingkungan pergaulan anak dan memperhatikan perubahan perilaku yang terjadi.

Kapolda sekaligus menegaskan komitmen Polda Maluku untuk memberantas narkoba, termasuk melakukan penindakan tegas terhadap anggota Polri yang terbukti terlibat.

“Tidak ada toleransi terhadap anggota Polri yang terlibat narkoba. Apabila terbukti melanggar, akan ditindak secara tegas sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku,” tegas Dadang.

Ia juga mengajak masyarakat tidak ragu memberikan informasi kepada Kepolisian apabila mengetahui adanya aktivitas peredaran narkoba di lingkungan masing-masing.

Lindungi Generasi Muda dari Ancaman Ruang Digital

Selain narkoba dan konflik sosial, Kapolda menyoroti tantangan baru yang berkembang seiring pesatnya teknologi digital.

Generasi Z dan Generasi Alpha, menurutnya, tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan internet dan media sosial. Kondisi tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus membuka ruang terhadap hoaks, ujaran kebencian, provokasi dan berbagai konten yang dapat memengaruhi pola pikir generasi muda.

Karena itu, keluarga harus memperkuat komunikasi dengan anak.

Orang tua tidak cukup hanya mengawasi penggunaan perangkat digital, tetapi juga harus memahami dunia yang dihadapi anak-anak mereka.

“Jangan sampai anak-anak kita lebih dekat dengan dunia maya daripada dengan keluarganya sendiri. Kita harus menjadi tempat pertama bagi mereka untuk bertanya, berdiskusi dan mencari solusi,” pesan Kapolda.

Dadang juga mengajak masyarakat memperkuat budaya literasi dengan membiasakan diri memeriksa informasi, membandingkan sumber dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Menurutnya, kemampuan masyarakat menyaring informasi merupakan bagian penting dari ketahanan sosial, terutama di wilayah yang memiliki keberagaman masyarakat seperti Maluku.

Tokoh Agama Diminta Aktif Menjangkau Generasi Muda

Kapolda juga menitipkan pesan kepada para tokoh agama agar terus memperkuat pembinaan generasi muda.

Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya ditujukan kepada anak-anak yang rutin datang ke tempat ibadah. Generasi muda yang mulai jauh dari lingkungan keagamaan justru perlu dijangkau dengan pendekatan yang lebih aktif.

Para tokoh agama diharapkan hadir, berkomunikasi, mendengarkan kegelisahan generasi muda dan memahami dunia mereka.

“Membina generasi muda tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Kita harus hadir di tengah mereka,” ungkap Dadang.

Ia menegaskan, menjaga generasi muda berarti menjaga masa depan Maluku sekaligus masa depan Indonesia.

Editor: Husen Toisuta

BACA BERITA TERKINI AMBONKITA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *